Aku sudah terkesan dengan salah satu sekolah anakku. Pertama kali anakku sakit di sekolah. Wali kelasnya langsung menghubungiku. Memberikan kabar bahwa anakku muntah-muntah. Selain itu anakku sudah berada di UKS. Tak lupa memintaku untuk menjemputnya.
Kemudian di bulan berikutnya. Anakku juga mengalami hal yang sama. Dia tumbang lagi. Wali kelas pengganti sementara yang sebenarnya adalah BK untuk kakak kelasnya menelepon. Apalagi kalau bukan menjemputnya. Untuk kali kedua, aku berterima kasih dengan kedua wali kelas tersebut.
Aku juga bercerita sedikit tentang kebiasaan anak-anakku. Biasanya mereka tetap memaksakan dirinya masuk sekolah terlebih dahulu. Meski sebenarnya sudah merasa tidak enak badan. Aku sendiri juga tidak bisa memaksanya untuk ijin. Pada akhirnya aku hanya berpesan, “Nanti kalau tidak kuat, minta tolong wali kelas untuk menelepon ami. Nanti, ami jemput ya.”
Kemudian jawaban yang hampir sama dari kedua wali kelas tersebut di waktu yang berbeda….
“Ibu, tidak apa untuk ijin. Istirahat di rumah sampai sembuh.”
Bahkan pernah anakku sudah 6 hari tidak masuk sekolah. Memaksa masuk karena merasa sudah ketinggalan pelajaran. Lagi dan lagi, telepon berdering. Aku yang tidak suka ditelepon ini selalu sigap menerima telepon dari wali kelas. Pasti ini bukan kabar yang baik untukku.
Ternyata anakku masuk UKS. Dia mengalami muntah-muntah.
Wali kelas menyampaikan. “Ibu, saestu tidak apa-apa untuk istirahat dulu di rumah sampai benar-benar sembuh.”
Senyumnya hangat dan lembut itu mengembang.
“Ini ananda tadi meminta untuk masuk sekolah. Katanya ketinggalan pelajaran. Menopo malih ini sudah satu minggu.”
“Tidak apa Bu, meski sampai 11 hari sekali pun. Ini juga ada banyak yang tidak masuk sekolah Bu. Ada beberapa kelas yang masuk hanya satu sampai lima anak saja. Tidak apa Bu.”
Aku kemudian menjawabnya dengan lega.,..
“Masya Allah, matur nuwun sangat. Kalau begitu ananda istirahat di rumah nggih. Mugi panjenengan sekeluarga selalu sehat nggih.”
“Aamiin ibu…. Terima kasih doa baiknya,”
Wali kelas itu pun mengantar sampai setengah halaman sekolah. Mengingat pasti harus kembali ke kelas.
———
Nah, di tahun ini. Satu tahun kemudian. Anakku sakit lagi. Wali kelasnya juga menghubungiku. Aku juga mengatakan hal yang sama kalau anakku memaksa masuk sekolah dulu. Begitu juga pesanku. Jawaban yang hampir serupa keluar dari wali kelas yang berbeda. Usianya juga terpaut sangat jauh dariku itu.
Di pertengahan. Anakku mencoba masuk sekolah. Belum ada 2 jam. Wali kelasnya menelepon meminta tolong untuk menjemput anakku. Kemudian meminta agar ananda istirahat dulu sampai sembuh.
Anakku juga cerita soal guru olahraganya yang menyampaikan. Kalau sedang sakit, istirahat di rumah saja sampai benar-benar sembuh. Meski itu lebih dari 3 hari tidak apa-apa. Pastikan masuk sudah dalam keadaan sehat ya.
Dari situ aku sudah salut. Kenapa? Itu artinya gurunya memanusiakan manusia. Anak didik adalah manusia bukan robot.
Begitu pula anakku satunya. Dia baru masuk ke sekolah ini. Pernah pertama kali anakku tiba-tiba diantar wali kelasnya. Wali kelas mengatakan kalau ananda mengeluh pusing. Jadi, langsung diantar. Aku langsung mengucapkan terima kasih. Bahkan aku memandang wali kelas hingga hilang dari pandangan.
Kali berikutnya, anakku juga sakit kembali. Wali kelas menelepon. Waktu itu menawarkan untuk diantar. Karena aku tidak enak merepotkan. Aku kemudian menjawab kalau aku jemput. Tak lupa berterima kasih tentunya.
Ternyata anakku cerita. Pas upacara dia merasa pusing dan tidak enak badan. Kalian tahu? Gurunya mempercayainya dan membawa ke UKS. Anakku benar-benar dirawat. Baik diolesi minyak, dll.
Kemudian aku menjemputnya. Hari ini pun sama. Anakku Senin masih masuk. Padahal menjelang Minggu malam, dia panas tinggi, giginya gemerutuk, dan mengigau. Tapi Senin malam dia begitu lagi. Akhirnya aku meminta ijin tidak masuk sekolah. Eh, tadi pagi meminta untuk masuk sekolah.
Aku sempat mengingatkan. Tetapi anakku tetap ingin masuk karena mungkin sudah terlalu lama tidak masuk sekolah. Meski begitu aku pesen hal yang sama. Kalau tidak kuat, matur Bu wali kelas ya. Biar nanti ami jemput.
Aku juga mengirimkan pesan ke wali kelas soal anakku yang ingin masuk sekolah. Begitu juga tentang pesanku ke anak kalau nanti ingin pulang.
Entah kenapa, namanya Ibu ya. Istirahat, aku ke sekolah. Aku cari anakku tidak beraktivitas di luar kelas. Ternyata di kelas, anakku duduk dan tampak lemes. Katanya sudah jajan, dll. Apa mau beli mainan? Mainan yang dia inginkan. Dia pernah cerita. Kebetulan aku masih memberi uang saku yang terbatas untuknya. Apalagi anaknya juga masih kecil. Toh, di rumah sudah sarapan, dll. Cukup kalau dia pengen beli jajan aja.
Terus pas aku ngobrol dengan teman-teman anakku yang menghambur seusai beli mainan, Wali kelas masuk membawa MBG. Aku sempat mau membantu. Wali kelas kemudian menyampaikan, Meniko mendet punya Danish mawon. Ini agak susah dibuka Bu.
Oh nggih Bu. Matur nuwun…
Lalu saat aku memindahkan MBG ke tempat bekalnya. Wali kelas menyampaikan untuk membawa pulang anakku saja. Daritadi pagi masih lemas. Bahkan saat kerja bakti, wali kelas bercerita tidak memperbolehkan anakku ikut. Memintanya duduk saja.
Lantas apa yang membuatmu memutuskan menuliskan hal di atas? Karena meski demikian ada juga yang menyampaikan bahwa anak sering tidak masuk sekolah. Anak baru ijin sakit selama 4 kali dalam 3 bulan. Tentu ini belum bisa dianggap sering tidak masuk sekolah. Bisa jadi ini termasuk jarang sakit.
Padahal ada begitu banyak anak yang tetap memaksa masuk meski merasa kondisinya sudah tidak enak badan. Hingga ketika sudah merasa tak sanggup lagi. Dia kemudian meminta tolong untuk diizinkan tidak masuk sekolah.
Kalau kamu menjadi orangtuanya. Saranku beritahukanlah guru tersebut dengan baik. Meski responnya juga beragam ya. Ada yang bisa mengerti. Ada yang justru mengatakan, “Kira-kira harus dikasih apa ya Bu. Biar anak ga sakit.”
——
Lha, apakah anak itu robot? Robot saja kalau terus dipaksa bekerja juga lama kelamaan akan rusak. Ponsel juga habis baterainya. Kalau dipaksa bekerja terlalu lama juga akan mengalami panas. Apalagi manusia. Apakah mau bertanggung jawab kalau terjadi apa-apa?
Jadi, aku salut dengan guru atau pihak sekolah yang mengutamakan kesehatan anak terlebih dahulu. Mereka tidak mau terjadi hal yang tak diinginkan. Toh pihak Disdik dan Kesehatan juga memberikan informasi apabila anak sedang sakit sebaiknya diijinkan. Mengingat ditemukan 24 warga yang sudah terkena INFLUENZA jenis A. Hal ini juga pernah dialami di Bulan Oktober hingga November tahun lalu. Tak hanya TK. Bahkan semua sekolah mengalami hal yang sama.
Menurut saya, Ibu mana sih yang mau anaknya sakit? Ibu bertanggung jawab mana yang tidak mengurus anaknya dengan baik?
Aku pikir tidak ada. Jadi, terima kasih aku ucapkan untuk para wali kelas dan sekolah yang memberikan kelonggaran agar anak didiknya beristirahat hingga sembuh. Memberikan semangat ibunya untuk tetap bisa menjaga anak tanpa perlu menyudutkan.
