Aku baru mengetahui berita tentang PEMBULIAN anak kelas 2 SD di Pemalang. Rasanya tidak keruan. Ada nyeri, ngilu, sedih, sakit, dll. Semua campur menjadi satu. Terlebih aku memiliki tiga anak lelaki. Plus aku merasa semua anak di dunia adalah anakku. Mungkin terdengar berlebihan.
Tetapi aku tak sekali dua kali MELERAI anak-anak yang berantem, bully, “bercanda”, dll. Mereka berada di AREA sekolah. Sementara ada banyak orang dewasa (lebih tepatnya) orangtua yang melihat. Tapi mereka memilih diam saja. Mereka tahu dan melihat.
Aku langsung parkir motor dan tergopoh-gopoh ke arah anak-anak tersebut. Tepat ketika ada anak memukul bagian tengkuk anak lainnya. Padahal itu area mematikan. Bisa mati seketika.
Aku lantas teriak, “Berhenti! Kalian mau TEMENMU MATI?! Kamu mau di penjara?”
Mereka lantas berhenti dan diam.
“Kamu kalau lihat ada teman berantem. LERAI!”
Mataku menyapu semua anak-anak itu. Anak yang bergerombol membentuk lingkaran tadi segera mundur pelan-pelan.
“Kalian harus melerai. Ada yang lapor guru!”
“Sana! Lapor guru!”
Lalu ada anak yang usai melihat mataku, segera berlari ke arah kantor. Sementara aku tetap di situ menunggu juga menjaga situasi tetap kondusif. Aku segera pulang setelah guru datang.
Itu tak hanya sekali dua kali banyak.
Lalu apa hubungannya dengan judul dan berita pemalang? Tentu ada. Benang merahnya adalah guru yang melindungi keluarga guru lainnya. Padahal itu salah.
Aku ada pengalaman. Dulu anakku sempat sakit perut sejak shubuh. Bahkan sempat berniat mau ijin saja. Tapi entah kenapa jam 06.45 WIB sudah mulai membaik.
Akhirnya kami putuskan berangkat. Saat berangkat anakku yang satunya diminta ke area sisi kanan sekolah. Sementara adeknya sempat ke kelas.
Entah kenapa oleh guru perempuan itu. Anakku yang kedua diminta untuk masuk barisan. Aku sudah jelaskan kalau tadi anakku dari shubuh mengalami sakit perut. Guru bersangkutan menjawab ini hukuman untuk terlambat. Semua yang terlambat harus berbaris dan melakukan sesuatu.
Padahal kami datang 06.55 WIB. Belum jam 7 tet. Tapi ya sudahlah. Aku tetap menunggu karena kawatir anakku kenapa-kenapa.
Anak-anak tersebut berada di barisan tersebut selama 30 menitan. Dan kalian tahu. Tak berapa lama ada guru dengan cucunya naik motor. Lewat begitu saja. Tanpa dihentikan oleh guru yang menghukum.
Lalu aku maju, “Permisi, baru saja ada yang datang terlambat. Kok tidak dipanggil untuk berbaris?”
“Oh, ini untuk muslim.”
Aku langsung loading. “Bukannya tadi untuk menghukum anak yang terlambat? Sementara tadi masih kurang 5 menit?”
Dia lantas terdiam. Bingung mau menjawab.
“Anak saya dari shubuh bolak balik kamar mandi sampai lemes. Tetap diikutkan barisan. Kalau tahu begini. Tadi saya memutuskan ijin tidak masuk kelas.”
Dia terdiam dan berusaha mau lanjut.
“Apa karena anak tersebut cucu guru?”
Aku baru tahu info ini dari ibu-ibu yang berdiri di belakang. Tapi mereka tidak memiliki keberanian untuk menyampaikan. Sementara aku merasa ini tak benar situasinya.
Dia langsung menoleh kehabisan kata. Sementara ibu lain mengatakan. Enggih bu. Cucu guru.
Aku pulang dengan segala hal yang berkecamuk. Duduk di dapur sambil menyesap minuman yang ada.
Pas waktu pulang sekolah. Aku akhirnya memutuskan menemui kepala sekolah. Kepala sekolah ini pernah melakukan hal yang berani. Karena dulu kepala sekolah sebelumnya dikit-dikit mengatakan anak yang menurutnya tidak berlaku sepenuhnya adalah ABK. Bahkan melempar tas, mematahkan pensil, dll. Itu semua termasuk ABK.
Aku bahkan tak sekali dua kali menegur mereka yang dengan mudahnya mengatakan A abk, b abk, dll. Padahal tak sesimpel itu. Lain kali aku akan menuliskannya dalam artikel yang berbeda ya.
Baik, kita kembali ke momen kepala sekolah. Karena awal ada banyak kesesuaian dalam memandang ABK, pendidikan, dll. Kami seperti merasa cocok. Tak sekali dua kali, kami berbincang. Tak jarang kepala sekolah mendatangiku dan menyapa. Kebetulan aku tidak tahu kalau Kepala Sekolah ada di belakang.
Aku sampaikan apa yang menjadikan keberatanku. Alhamdulillah direspon dengan baik. Kebetulan aku tak sekedar mengajukan apa yang menjadi keberatanku. Ternyata memang banyak yang menyampaikan.
Besuknya guru tersebut salah tingkah bila bertemu denganku. Kemudian menyapa dengan mengangguk takzim lebih dalam. Padahal sebelumnya terbilang seperti, “Kamu siapa?”
Tapi, sudahlah. Itu sudah tak terjadi lagi. Aku tak memperpanjangnya. Sejak itu kalau ada anak atau pihak orangtua menyampaikan kondisi anaknya. Mereka harus percaya. Jangan sampai melakukan hal yang akan menimbulkan resiko selanjutnya.
Meski aku akan terus teringat dengan momen itu. Sewaktu-waktu akan muncul. Kalau ada peristiwa yang hampir serupa kembali ke permukaan.
Apalagi anak yang meninggal karena dibuli di SD Bon Dalem Pemalang itu. Katanya ada anak guru dan polisi. Jadi, pelaku ada 3 orang. Salah satunya sudah dilarikan ke Surabaya. Alhamdulillah beritanya viral. Apa sih yang tidak bisa kalau sudah viral? Tidak akan selamat ketiganya.
Hanya saja saranku. Meski itu adalah partner kerja saat jadi guru. Kalau melakukan kesalahan, ya jangan diam saja.
Anak temanmu melakukan kesalahan. Ya jangan dilindungi dan ditutupi.
Apalagi ini pembunuhan lho.
Kalau aku dulu. Kesalahan guru tersebut adalah tidak memanggil murid yang cucu guru tersebut masuk ke dalam barisan. Sementara gurunya tidak mencontohkan hal baik ke cucunya untuk ikut barisan.
Bagiku kalau anak salah ya salah. Kalau benar ya benar. Itu yang aku tanamkan ke ketiga anakku. Bahkan aku pernah bilang. Kalian tahu kan? Kalau ami bilang iya, itu artinya iya. Kalau tidak ya tidak. Tidak pernah sebaliknya. Bahkan kalian ami bebaskan memilih pilihan masing-masing. Tapi kalau salah ya ami beritahu. Kalau benar, ami apresiasi.
Semoga keadilan untuk ananda ditegakkan ya. Sudah tidak sakit lagi ya nak. Anak surga tenanglah di sana. Keadilan akan datang. Husnul khatimah ya nak.
