Anakku dipukul temannya – Kali ini aku tulis juga di blog ini mengenai Bagaimana Caranya Menghadapi Anakmu dipukul Temannya? Ini Berdasarkan Pengalamanku ya. Aku memang pernah menuliskan hal ini beberapa kali di beberapa media sejak dulu kala. Kali ini aku tulis juga di blog ini mengenai Bagaimana Kalau Anakmu Mendapatkan Perlakuan Tidak Menyenangkan dari Temannya? Ini Berdasarkan Pengalamanku ya. Mungkin akan ada beberapa pendapat yang berbeda. Meski begitu mari baca sampai akhir. Agar tahu apa alasannya. Alhamdulillah cara ini cukup manjur.
Aku memiliki tiga anak laki. Bagiku mau anak laki atau perempuan. Semua sama berat tanggung jawabnya. Makin ke sini makin banyak hal yang makin tak terkendali. Bahkan orang dewasa sendiri tak bisa menghentikannya.
Oleh karena itu, aku memiliki prinsip sejak dulu adalah mendidik anak sejak dini. Tentu saja dari rumah. Mengingat prosentase kehadiran orangtua jauh lebih besar ketimbang waktu yang dimiliki anak ketika di sekolah.
Itu kenapa aku juga tak sepenuhnya menyerahkan semua ke guru. Dalam artian, kita tak bisa menuntut guru harus begini dan begitu.
Cara Menghadapi Anakku dipukul temannya – Hal yang selalu aku tekankan ke anak adalah bagaimana mereka menjaga diri ketika di sekolah. Aku tanyakan beberapa hal ini:
- Di sekolah ada ami? Tidak. Lalu harus apa? Harus jaga diri. Harus berani, dll.
- Kalau ada teman yang berani melukai bagian tubuhmu. Kamu harus apa? Balas. Untuk apa? Agar temanku tahu itu sakit. Lalu katakan apa? Sakit. Setelah itu kemana? Lapor ke guru.
- Jadi apa? Tidak boleh diam saja. Lalu tidak boleh apa? Tidak boleh mulai duluan.
- Di sekolah jumlah murid sama guru. Lebih besar jumlah siapa? Murid. Jadi, apa? Guru tidak bisa mengawasi muridnya selalu. Kewalahan. Makanya apa? Harus jaga diri.
- Perlu tidak, kakak, mas, adek untuk bercerita apa saja yang terjadi di sekolah? Sangat perlu. Kenapa? Agar ami tahu apa yang terjadi. Mau seburuk apa pun itu. Sememalukan apa itu. Tetap cerita. Ami akan mendengarkan semuanya. Ami ga akan marah. Asal jujur. Kalian tahu ami apa? Ami tahu mana yang bohong atau tidak. Jadi, lebih baik apa? Jujur.
Itu 5 basic hal yang selalu selalu aku tanamkan. Sebenarnya ada lagi. Tapi itu sudah cukup.
Oia, ada satu lagi. Ajarkan anak untuk tidak memainkan ranting pohon dan benda dengan ujung yang runcing. Kita tak pernah tahu lho. Ujungnya yang runcing bisa membahayakan diri juga orang lain. Amit amit jabang bayi kalau itu mata. Mau mata tidak berfungsi? Tidak mau. Jadi, jangan pakai ya. Dulu aku juga ajarkan hal itu pada anak lain. Meski bukan anakku. Entah temannya. Tetangganya. Aku akan mengajarkan itu. Aku tidak mau menyesal. Itu saja.
Apakah terlihat perbedaannya ketika anak bercerita soal apa yang terjadi padanya di sekolah?
Jawabannya tentu ada. Contoh, ada anak yang jadi berpikir kalau mau melakukan sesuatu. Guru-guru jadi paham kalau orangtua pasti akan tahu apa yang terjadi di sekolah. Karena anak pasti cerita.
Fyi, seperti yang kita ketahui bersama. Ada guru yang sangat baik hati dan ada yang sebaliknya. Karena pernah mengalami beberapa hal terkait hal itu. Kapan-kapan akan aku ceritakan secara terpisah. Dan tentu saja bagaimana cara agar bisa keluar dari situasi tersebut. Ingat, mereka juga manusia. Kita sama-sama manusia.
Alhamdulillah sejauh ini memang lebih banyak ketemu yang baik. Meski ada yang begitulah. Itu adalah hal yang wajar terjadi. Hal yang perlu dicatat adalah biasanya pasti akan ada cara untuk keluar atau solusi.
Kalau kita bertemu dengan guru yang baik. Biasanya mereka akan meespon dengan baik. Kemudian akan melakukan beberapa hal yang akan membuat hal tidak diinginkan terjadi lagi. Jadi, pastikan untuk 3 tahapan ya. Balas (biar temannya tahu itu sakit), katakan sakit pada “pelaku”, lapor guru. Guru yang peduli dengan anak didiknya pasti tidak akan tinggal diam dan membuatnya semakin berlarut. Tidak akan mengesampingkan/menyepelekan dengan kalimat, “Namanya juga anak-anak.”
Bagaimana pengalaman tentang anak yang pernah dilukai bagian tubuhnya oleh temannya?
Baik, anakku ada 3. Semuanya adalah lelaki. Perbedaan usianya juga terbilang cukup jauh dengan yang bungsu. Meski demikian apa yang sudah aku terapkan dan didik pada kedua anakku yang lebih dulu lahir masihlah bisa dipakai.
Anakku pernah difitnah memukul temannya padahal tidak ( aku akan cerita di part yang berbeda karena akan jadi panjang). Pernah juga didorong, dipukul, dikucilkan, diberikan kekerasan verbal, dll.
Anakku yang pertama pernah mengalami di bangku kanak-kanak. Yang melakukan tidak hanya temannya. Tetapi juga salah satu gurunya. Ini akan saya ceritaka secara terpisah. Kita tak pernah tahu lho. Silakan dibaca kalau sudah saya posting ya.
Saat SD pun demikian. Alhamdulillah masih bisa saya tangani dengan baik. Anak saya memang tipikal penyayang. Mereka tidak mau menyakiti orang lain. Pernah dia di kelas 1 SD. Ada yang mendorongnya. Cukup kencang sampai bergeser cukup jauh. Alhamdulillah tidak jatuh. Dan ada beberapa lagi lainnya.
Apakah aku tahu pelakunya? Tentu saja aku tahu. Malah berinteraksi dengannya. Anak tersebut memiliki latar belakang yang memang bikin trenyuh. Aku justru memahami kondisinya. Paham kalau anak tersebut jauh dari keluarganya. Kebetulan kedua anak itu dititipkan ke pondok dekat rumah. Aku juga tak jarang berinteraksi dengannya. Entah membawa mereka pas pulang sekolah. Mengajak ke rumah untuk bermain bersama anakku. Tapi ya begitulah. Lain waktu akan aku share di artikel yang berbeda.
Alhamdulillah setelah melakukan apa yang saya ajarkan. Anak yang suka “mengganggu” itu tidak melakukan lagi. Ya, kalau ada yang masih. Saya pun akan turun langsung. Tidak akan melukai anak itu. Tapi paling tidak, anak itu berhenti. Tidak melakukannya lagi.
