Kalau aku ingat-ingat. Aku termasuk orang yang tidak pernah ambil pusing mau dijelekin kaya apa. Terserah deh. Selama itu tidak benar. Itu hanya karangan belaka. Kecuali kalau itu sudah mengganggu orang terdekat.
Berapa kali orang menyampaikan apa yang mereka dengar. Aku hanya bilang biarkan saja. Pernah difitnah dan dikucilkan salah satu komunitas. Justru aku tetap baik. Aku tidak marah. Kalau ada makanan berlebih dari kerjaan. Dulu pernah jadi bagian TIM SUKSES calon. Tak sekali dua kali ada jajanan atau makanan kotak yang sisa banyak sekali. Sudah dibagi, masih ada.
Aku lalu membaginya kemana pun. Salah satunya komunitas itu. Intinya aku tetap baik. Hingga sampai suatu saat, mereka minta maaf sendiri. Tanpa pernah aku KLARIFIKASI. Ada yang secara perorangan. Ada pula yang beberapa orang. Aku menghargainya karena butuh KEBERANIAN yang besar untuk meminta maaf.
Aku begitu pemaaf ya….
Apakah aku maafkan? Iya. Bahkan aku tahu siapa yang memfitnahku.
Aku pun memahami kenapa mereka begitu. Pertama, aku masuk ke situ karena dikenalkan si pemfitnah. Sayangnya, KESALAHANKU adalah menyita perhatian mereka. Bukan yang bersangkutan. Kalau kalian tahu pelakunya berjenis kelamin apa? Mungkin kamu kaget. Dia laki-laki.
Orang yang berada di komunitas itu bingung mau percaya sama siapa. Sementara mereka jauh LEBIH LAMA kenal si PEMFITNAH. BUKAN aku yang belum lama masuk. Pada akhirnya mereka memutuskan minta maaf setelah tahu KEBENARANNYA.
Jujur aku menyukainya. Mereka bahkan makin baik sama aku ke depannya.
Apakah ini hanya terjadi sekali dalam hidup?
Apakah ini terjadi sekali dalam hidupku? Tentu saja tidak. Ada beberapa kali. Endingnya? Selalu kehancuran berkali lipat mendatangi si pemfitnah, tukanh jelekin, dan penyindir (padahal tidak melakukan kesalahan).
Aku bersikap ketika kalau itu sudah membahayakan anak atau ibuku. Aku tak masalah diceritakan seperti apa. Kecuali kalau itu nyenggol anakku bahkan ibuku. Meski itu yang melontarkan masih kerabat. Atau istrinya kerabat. Padahal aku sudah diam. Ibuku juga berkali-kali membantu. Seolah anaknya begitu mulia. Tetapi aku tidak. Aku yang MENJAGA PERGAULAN dengan pria, tahu waktu, tidak pernah merokok/tato/minum/clubbing, dll ini. Selalu juara satu di tiap angkatan ini. Yang tetangga di rumah dan teman sekolah aja mengatakan anak baik. Wanita baik-baik. Lurus pula. Tentu akhirnya aku bersikap.
Tidak ada manfaatnya dalam hidup kita
Selebihnya aku diam. Karena aku tahu siapa saja yang mengganggu kehidupanku. Selalu berakhir tidak baik-baik saja. Bisa mengalami apa yang dia lakukan ke aku. Plus dikasih bonus-bonusnya. Allah Maha Baik memberiku kesempatan melihatnya. Aku sering kebingungan. Antara kasihan ata senang. Kasihan tapi dia jahat banget. Mau senang tapi pukulannya terlalu kencang.
Jadi, buat apa aku marah, dll. Kalau aku sudah bersikap. Biasanya mereka TERGAGAP, mulut gemetar, tangan juga gemetar, tidak berani menghadapi, sembunyi, dan pindah.
Sepanjang pengetahuan dan pengalamanku berada di banyak komunitas, organisasi, dll. Aku melihat orang bervalue biasanya habis waktunya untuk bahas soal UPGRADE diri, masa depan, hal positif, dan penting lainnya. Bukan ngurusin orang lain atau hal negatif lainnya. So, kalau kamu menemukan circle seperti itu. Maka kamu beruntung. Tidak drama dan tak habis waktu buat terbawa jeleknya. Bergaul dengan penjual minyak wangi akan ikut wangi. Artinya kalau bergaul dengan orang bervalue. Cara pandang, mindset, mimpi kalian akan setara dan positif.
Kamu juga akhirnya akan terbawa. Bayangkan kalau kamu dekat dengan orang yang hidupnya hanya berkutat pada menjelekkan orang lain. Mencari kesalahan orang. Memfitnah, menyindir, dan hal buruk lainnya. Hidupnya juga segitu aja. Beda dengan orang yang bersikap sebaliknya. Mereka tak ada waktu untuk membicarakan orang lain. Fokus ke hal positif. Dan kalian akan sadar ketika mencoba sebentar mendengarkan mereka yang suka menjelekkan orang lain. Kamu akan merasa lelah. Kenapa? Karena frekuensimu tak sama. Itu bukan kamu. Kamu terkuras. Mending kalau itu bisa membuat kamu banyak uang. Kamu bisa ikut upgrade lebih baik. Ini tidak ada faedahnya sama sekali. Untuk apa? Toh tidak memberikan manfaat apa pun dalam hidup dari sisi mana pun. Buat apa untuk menanggapinya? Itu bukan VALIDASI tapi sikap yang PATHETIC.
