Beginilah Dasar Tugas Digital Marketing Strategy yang Perlu Anda Ketahui




Apakah ada yang ingin menjadi bagian Digital Marketing Strategy? Kalau iya, artikel ini layak Anda baca sampai selesai. 
Apa sih Digital Marketing Strategy? 
Tentu saja mengurus strategi pemasaran di online. Tapi tidak semudah yang di pikiran kebanyakan orang. 
Pekerjaan ini tampak santai, bisa dikerjakan darimana saja, tapi bisa menguras pikiran lho. Bagaimana tidak? Kita dituntut kreatif dan inovatif. 
Ada pemikiran bahwa Digital Marketing Strategy juga harus membantu

penjualan sebuah produk atau brand.
Menurut beberapa sumber yang merupakan praktisi di bidangnya. Digital Marketing Strategy bukan corong penjualan. 
Fungsi dari pekerjaan ini adalah untuk meningkatkan awarness terhadap produk atau brand, membuat calon target produk menimbang solusi yang ditawarkan dari produk, dan tentu saja menggiring mereka untuk memutuskan membeli karena solusi tersebut. 

Apa yang harus dilakukan sebelum mulai membuat awarness produk? 

Buatlah persona calon target dari produk atau brand tersebut. Mulai dari pekerjaan, jenis kelamin, usia, pendidikan, dll. Kenapa? Agar targetnya lebih spesifik dan tepat. 

Berdasarkan pengalaman, JANGAN PERNAH JUALAN DULU. 

Mengapa? Pada dasarnya orang tidak mau ditawari secara terang-terangan. Mereka tidak mau orang dengan jelas menjual produk. Itu kenapa kebanyakan di online lebih ke promosi soft selling. 
Apalagi itu soft selling? Membuat materi/konsep menjual produk tapi tidak terlihat menjual. Jadi seperti Anda sedang bercerita menggunakan atau mengkonsumsi produk dan bisa pesan melalui kontak yang Anda cantumkan. 
Lebih tepatnya, Anda bisa googling apa itu soft selling. Bahkan di blog saya ini ada kategoru sponsor post, di sana artikel soft selling bertebaran. 🙂

Pertanyaannya sekarang adalah, BAGAIMANA KALAU TERNYATA PENJUALAN TIDAK SIGNIFIKAN? 

Kembali lagi berdasarkan sumber terpercaya, DIGITAL MARKETING STRATEGY bukan corong penjualan. Apalagi untuk produk baru. Tentu orang juga akan berpikir ulang sebelum membeli. Mereka harus diyakinkan terlebih dahulu. Kita dekati dulu. Kalau sampai ada penjualan. Itu bagus. Meski belum sebanyak produk yang sudah lama hadir. Menurut guru saya, minimal  tujuh bulan sudah akan terlihat hasil yang diharapkan. 
Itu kenapa selain online juga ada pendekatan offline. Keuntungan pendekatan offline, calon target mengetahui langsung bentuk, wujud dan kualitas produk. Berbeda dengan yang online. 

Saya memiliki contoh kasus begini….

Produk obat batuk anak.
Target adalah ibu yang memiliki anak usia 2-12 tahun. 
Tentu saya akan membuat konten yang edukatif dan membuat mereka membaca tanpa terkesan sebenarnya itu bertujuan untuk membuat mereka tahu ada produk obat batuk itu. Terutama kalau obat batuk itu baru.
Konten tersebut berupa konten edukatif seperti Cara Mudah Agar Anak Tidak Batuk, Langkah yang Harus Dilakukan Ibu Agar Anak Tidak Sampai Batuk, Inilah yang Harus Ibu Lakukan Kalau Anak Batuk. Kurang lebih begitu. 
Ada bayangan?

Tujuan konten tersebut untuk menarik mereka mengunjungi media sosial dan web produk. Kemudian membaca dan menemukan solusi. 
Tapi itu tidak menjadi patokan target akan membeli. Bisa jadi mereka masih ragu atau membeli nanti saja atau alasan lain. Itu kenapa kita harus mengingatkannya berulang kali. 
Melalui apa? Konten dari web, media sosial dan iklan seperti fb ads, google ads, dll. Akan panjang sekali kalau kita bahas semua. 🙂
Intinya TIDAK ADA YANG INSTAN. Ingin hasil nyata dalam waktu cepat? Sementara praktisi yang mengurus banyak brand besar mengatakan bahwa waktu ideal terluhat hasilnya di atas 7 bulan. Di bawah itu? 
Anda tahu jawabannya kan? Ada proses di sana. 
Setelah itu Anda tinggal melihat hasil dari apa yang telah dikerjakan. Mana konten yang lebih menarik dan tidak. Perbanyak atau perpanjang iklannya, dll. Buat konten serupa yang memiliki hasil klik, like dan kunjungan terbaik. Jadi makin terarah.
Pastikan melakukan tiga tahapan tadi ya? 
Awarness dulu, buat mereka tertarik, menimbangkan solusi dan menggiring mereka memutuskan membeli. Tapi perlu diingat tidak ada yang mau diprospek. Buat mereka tertarik. Tidak semua yang berkunjung membeli produk. 
Maka ingatkan mereka yang masuk dalam golongan ini melalui konten-konten edukatif Anda. Jadi jangan jualan. Tapi berikan mereka informasi, ilmu berharga, kejutan. Sharing sebanyak mungkin. 
Lama kelamaan mereka akan merapat dan like, follow akun media sosial pun semakin banyak. Semua butuh proses. 🙂
Bagi Anda yang ingin membutuhkan jasa Digital Marketing Strategy, bisa menghubungi saya di ikamitayani@gmail.com atau melalui WA 0811 295 28 29. Saya dan tim akan membantu Anda dan bisnis Anda. Hanya tidak ada yang instan ya. Semua butuh proses. 




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *