Ika Mitayani

Berbagi Tentang Parenting dan Konten Instagram

Sudut Pandang Rangga A Kusuma Versi Saya

Anak seperti Rangga itu kasihan. Saya juga serupa dengan kamu nak. Saya juga produk broken home ( dan saya baru menyadarinya). Hanya saja, saya masih beruntung, memiliki mama yang mengorbankan segalanya demi anak semata wayangnya ini. Beliau banyak sekali yang melamar, lelaki-lelaki tampan bermasa depan cerah. Tapi mama menolaknya, beliau takut, tak akan bisa memperhatikan saya dengan baik. Atau tepatnya perhatiannya akan berkurang, tak sama lagi. Tentu akan berbeda. Mama akan mengurus suaminya, saya, dan anak-anak dengan suami baru.

Meski kondisi ekonomi sangat sulit, hutang disana sini, tapi saya selalu merasa hidup layak. Makan enak, dan senang. Saya pernah merasa juga sepatu bolong, makan tempe kecil yang dulu harga seratusan dibagi 4, dll
( Kalau sekarang mama berkelimpahan, karena usahanya, jerih payahnya sendiri, tanpa sepeser pun dari lelaki itu). Padahal seharusnya ada lelaki yang sah tercatat resmi di KUA, yang seharusnya menafkahi, mengunjungi kami. Tapi dia justru tak pernah ada.

Hingga aku bisa melihatnya utuh, berdiri di hadapan, saat mama kanker payudara, Mama menggunakan fasilitas keluarga Te***m, untuk berobat. Ya karena mama tercatat sebagai istrinya. Ternyata teman di kamar rumah sakit, bertanya-tanya kenapa mama tidak ada yang menjenguk dan diam saja. Saya juga tidak tahu menahu, kalau mama ke Bandung karena itu.

Beliau adalah sekertaris direktur utama BUMN telekomunikasi Te***m, Bu Hartini yang baik ( semoga saya bisa bertemu dengan beliau, karena pindah Jakarta). Akhirnya tanpa diminta beliau mengurus masalah kami, karena naluri wanita ( kata Bu Hartini, mama menceritakan segalanya secara detil). Sampai direksi dan staf2 ahli, ada di satu ruangan. Dulu, saat mama mengurus agar saya bisa bertemu, lelaki itu selalu sembunyi, teman-temannya juga menyembunyikannya. Mama mencarinya kemana mana. Sampai pernah saya dan mama menginap di rumah orang yang kasihan dengan kami, semalam. Saya tidur disana, menulis, mencoret buku gambar pahlawan. Kamar dengan tempat tidur ada kelambunya, dekat dengan kamar mandi dan sumur. Tak hanya itu. Berkali-kali kami begitu. Waktu itu saya tak tahu. Saya typus dan memanggil papa, lelaki itu tak pernah datang. Sekarang saat saya dewasa, saya baru tahu, kedatangan di Bandung, untuk mencarinya. Agar saya bisa melihatnya.

Masalah cepat beres, saat ada petinggi, dia datang. Menangis tanpa henti, menghabiskan semua tisu yang ada banyak di meja. Menciumi ubun2 kepala seraya meminta maaf. Saya mati kutu, diam seribu bahasa, menangis. Menangis seperti semua yang datang. Seharusnya saya marah, meluapkan kemarahan, kenapa dia tak pernah ada.

Saya yang sudah belajar merangkai kata-kata, yang kasar, justru menguap saja. Saya yang terkejut saat diminta datang ke Bandung oleh teman mama, tanpa bilang untuk keperluan apa. Saat usia 17 tahun. Lelaki itu, menandatangani surat, agar memberikan saya tunjangan 300rb setiap bulan ( 17 tahun saya hidup bagaimana dan mana?), tapi hanya terkirim 3x saja. Mereka menyuruh agar meresmikan cerai. Tapi sama saja, mama yang harus mengurusnya, mahal. Saya pernah ditelepon lewat tetangga yang baik, lelaki itu menyuruh pasang telpon, hanya sekali, ga ada sejam. Setelah pasang telepon, dia tak pernah menghubungi saya lagi. Saat saya luluh dan meneleponnya, berkali-kali kamu tak ada. Teman-temanmu turut berbohong. BOHONG.

Hingga akhirnya saya menikah, saya pun tak mau melihatmu di hari itu. Saya takut hari istimewa akan menjadi jauh lebih buruk. Alhamdulillah, Mama, dan keluarga memahami keinginan itu. Atas bantuan staf yang dulu membantu proses di usia 17 tahun itu. Keinginan terwujud, Pak Tunggal Kalimantan, mengurus surat-suratnya. Beliau juga pernah mengunjungi saya di Solo. Mengetahui perkembangan saya, ketika El lahir dan mengucapkan salam. Mereka yang hadir mendoakan setelah siraman dengan linangan air mata. Berharap saya tidak akan mengalami hal yang sama, seperti Mama.

Lebih baik tak bertemu dan berjanji, daripada justru melukai. Maaf? Banyak orang sok suci meminta untuk memaafkan dia? Mudah? Pertanyaannya adalah, pernahkah kalian ada di posisi saya? Agar bisa memahami dengan benar perasaan selama ini?

Saya hidup dengan mama sejak dari kandungan. Jadi saya tak pernah tahu, dan tak mengenal sosok ayah itu, selain foto pernikahan, karena dia tak pernah ada di hidup. Sangat mudah bagi saya, agar tidak menjawab pertanyaan setiap orang. Saya selalu bilang, papa sudah meninggal. Kalau tidak orang-orang yang tak dikenal, akan bertanya terus. Ini merepotkan. Setiap pulang kantor mama sudah menjadi ibu yang sangat baik.

Bedanya saya dengan kamu Rangga. Kamu pernah berkumpul dengan kedua orangtua mu. Kamu tahu mama dan papa. Bedanya lagi, papa dan mama memiliki keluarga baru. Seminggu di papa, seminggu di mama, seperti bola ping pong. Bagi orang tua seperti ini tak masalah. Bagi anak, pasti jauh berbeda. Wajar kalau ada perasaan begitu. Saat di rumah papa atau mama, kamu akan melihat adik tirimu dan mama atau papa tirimu. Tentu ada yang berbeda. Bohong kalau tidak.

Perhatian papa mama yang telah menikah, punya anak-anak lagi, dengan keluarga barunya, tentu akan berbeda untuk Rangga. Saya bisa merasakan dan membayangkan kesepiannya. Hidup tanpa kepastian.

Saya juga pernah dititipkan ke kerabat saat mama sekolah 3 tahun, tapi saya selalu yakin mama akan menjemput, mengjenguk dan berkumpul. Saya juga menjalani hari-hari seperti biasa. Memang tak diberi perhatian ( kalau iya,seperlunya), karena memang akan berbeda. Yang penting tercukupi dan sehat, mungkin begitu. Padahal bagi anak, dia ingin dipeluk, ditanya sudah makan? Diajak berbincang dan ada didekatnya sewaktu-waktu. Bepergian, entah hanya ke Mall, dll.

Pantas Rangga merasa, dia tak diinginkan kedua orang tuanya. Karena dia tak punya keyakinan, bahwa dia bisa lama dengan papa atau mamanya. Dia juga tak bisa sewaktu-waktu bercerita, mengajak pergi orang tuanya sewaktu-waktu. Dia tak bisa seperti kawan-kawannya. Pantas dia menyendiri, dll. Anak seperti harusnya dikasih dukungan, dan ditemani.

Dari awal saya juga sudah bertanya-tanya, senyumnya yang menghilang, terlihat dari fotonya, waktu kecil dia tersenyum lebar dan los.

Saya harap, bagi orang yang berkomentar di sosial media, coba posisikan Anda sebagai dia. Kita bisa berkomentar apa saja. Bagi dia masalahnya lain, dan saya sangat memahami itu.Mental, sifat, kepribadian tiap orang berbeda. Dia ceria awalnya terlihat dari senyumnya. Saya juga. Tapi situasi dan kondisi saya juga berbeda.

Saya bersyukur, punya mama yang aku merasa bisa memilikinya, sampai merasa, dan seperti perhatian dari Mama sudah lebih dari cukup. Produk broken home perlu perhatian dari keluarga besar dan tetangga juga lingkungan. Jangan karena terlihat baik-baik, ya, akan baik-baik saja. Tak sesederhana itu.

Tak semua orang tahu kalau saya hidup dengan mama single parent kalau tidak dekat. Mereka pasti kaget, kenapa kamu selalu ceria?

Bahkan ada guru-guru yang tahu, bisa bilang, ” Kamu cantik, pinter juara kelas dan sekolah ( Tes IQ-ku juga terbilang tinggi), jago jualan, anak baik-baik, ga nyangka kondisi ayah ibumu begini.”

Ya karena saya mandiri, ceria, dibilang cantik sama kebanyakan orang, tangguh dan beraktivitas seperti anak-anak pada umumnya. Saya seperti anak normal dengan keluarga lengkap. Nge-band pernah, naik gunung pernah. Tidak merokok, ngobat, dan lain-lain.

Bersyukur teman-teman banyak dan baik, melindungi. Teman mulai yang menurut orang nakal hingga alim, saya juga punya. Manja? Tidak, Kekanak-kanakkan? Tidak! Makanya kalau ada yang bilang begitu, saya pengen bilang, kamu kenal saya berapa lama?

Itu kacamata saya, sudut pandang saya, sesama produk broken home. Rangga sayang, saya hanya bisa mendoakanmu dari sini. Semoga Alloh memaafkan kesalahanmu dan kekhilafanmu, melapangkan kuburmu, menerima segala amalan, kebaikanmu, menghapus dosamu, menempatkanmu di tempat yang baik. Iya, Alloh memang Maha Baik, Maha Segalanya. Alloh mencintai dan menyayangi umat-nya.

Ini jadi mengingatkan masa lalu yang tak pernah saya tutup-tutupi. Kelak saya ingin juga menjadi konselor buat anak-anak seperti saya. Karena saya adalah bagian dari itu. Saya tak ingin, anak-anak saya mengalami itu. Anak sudah punya perasaan, keinginan, dan harapan. Jangan lukai itu.

Selamat jalan Rangga Arman Kusuma

*NOTE:

Catatan ini bentuk kepedulian saya, ketika membaca berita yang ada. Berita yang awalnya saya saring untuk tidak saya baca. Karena saya pasti akan kepikiran beberapa bulan. Seolah saya bisa merekontruksi ulang kejadian, kegiatan korban dll. Berita yang menyangkut bayi dan anak, sering melukai perasaan dan sisi keibuan saya. Tapi saya baca juga. Termasuk komentar yang menyudutkan. Ini broken home dari saya. Kacamata saya, yang saya baru sadari, bahwa saya juga broken home.

Saya yakin dan percaya, kedua orang tuanya sekarang sedang bersedih, menyesal, dll.

Untuk Mama, semenjak kecil saya selalu mendoakan untukmu, kesehatan, panjang umur, rejeki yang berkelimpahan, kebahagiaan, dan iman dan pribadi yang selalu kuat dan tangguh.

Saya bersyukur, karena dengan apa yang saya alami. Saya tumbuh menjadi pribadi yang kuat, tangguh, mandiri, dll.

Apabila artikel ini bermanfaat, silakan menambah G+ dan follow @IkaMitayani dan Like Fanpage IkaMitayaniCom.

(Visited 23 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *