SPG Kosmetik Dilarang Keras BerBohong

Anda pernah mengalami kejadian ini? Anda sedang mencari lipstik dengan merek La Tulipe nomer 9.

Nah Anda sempat ragu-ragu untuk membeli di tempat itu. Rencana awal akan membeli di tempat yang biasa Anda kunjungi.

Ah pasti sama saja, kan mereknya sama.

Anda sudah menempuh jarak dan waktu untuk pergi ke counter merek La Tulipe di Sami Luwes Kamis 12.30-13.00. Anda menanyakan apakah ada lipstik dengan nomer 9.

Dia menjawab, ” Wah tidak ada, itu sudah tidak keluar lagi.”

Anda akan terbengong-bengong. Tak percaya masa iya?

SPG tersebut menjawab, ” Iya, sekarang digantikan dengan ini.”

Dia lantas menunjukkan lipstik yang terpajang di etalase. Berjuang untuk meyakinkan pembeli. Pembeli masih tak percaya dan menatap matanya. Dia sempat berkedip dan membelokkan arah tatapan ke arah lain.

Pembeli tersebut tetap membelinya. Namun keesokan harinya, dia pergi ke counter La Tulipe yang berada di Ratu Luwes Solo. Dengan sigap SPG tersebut berdiri menyambut dengan senyum manis.

” Ada dong. Mau nomer berapa Ma?”

” Nomer 9 ya.”

Dia segera mengambilkan nomer tersebut.

” Benar kan filing saya.”

” Kenapa Ma?”

” Kata SPG La Tulipe di Sami Luwes Kamis kemarin, 12.30-13.00, bilang kalau model begini tidak keluar lagi. Saya ga percaya tapi tetap beli. Masa iya kalau ga keluar lagi masih ada model serupa. Katanya sudah lama 2 bulan ini. Cuma nggondok saja. Kok sempat-sempatnya bohong.”

SPG tersebut tersenyum. ” Oh tentu tidak, disini masih ada banyak stoknya.”

” Kenapa harus bohong ya? Kemarin saya juga sempet ragu-ragu, mau beli disana apa disini. Udah tahu ragu-ragu tetap dikerjakan juga. Oia terima kasih ya.”

” Sama-sama Ma.” Senyumnya mengembang.

Pelajaran dari cerita di atas adalah. Perlunya pengawasan dari supervisor SPG. Memang tak semuanya melakukan hal mengecewakan tersebut. Mungkin mengejar target harian atau apa, tidak tahu. Lain kali tindakan Anda adalah mendiamkan dan tak datang ke counter tersebut dan beralih ke counter yang jujur. Atau Anda melaporkan ke customer resmi, agar ada teguran. Karena ini akan merugikan nama perusahaan, kalau tidak diketahui. Sayang kan, kalau produk ditinggalkan hanya karena garda depannya alias oknum SPG tersebut? Padahal kualitas produknya terbilang sangat bagus.

Apabila artikel ini bermanfaat, silakan menambah G+ dan follow @IkaMitayani dan Like Fanpage IkaMitayaniCom.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *