Rumah Makan Murah Meriah dan Maknyus di Jogja




rumah makan murah, rumah makan maknyus di Jogja
Rumah Makan Murah Meriah dan Maknyus di Jogja
Siapa sih yang tidak mau makan enak, maknyus dan murah meriah lagi. Saya punya informasi rumah makan yabg memenuhi syarat di atas lho. Namanya Kedai Rakjat Djelata. Terletak di Jl. Dr. Sutomo No.54, Baciro, Gondokusuman, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Letaknya tepat di depan jalan setelah jembatan layang Lempuyangan, kiri jalan. Meski begitu, Anda harus memperhatikan dengan seksama, kalau ingin menemukan kedai tersebut.

Bagi Anda yang menggunakan motor, bisa langsung parkir di depan kedai. Tapi yang memiliki mobil, saat parkiran penuh, akan kesulitan parkir. Walhasil, Anda harus parkir di toko sebelah atau seberang kedai. Jangan kawatir, tukang parkirnya cukup membantu kok.

Jangan kawatir, ini bukan masalah besar, hanya untuk persiapan buat Anda yang tertarik datang, tapi kehabisan tempat parkir, kasih kode aja ke tukang parkirnya….

Kedai Rakjat Djelata didominasi warna hitam dan teduh, khas rumah sederhana di desa yang nyaman. Terlebih dahulu Anda akan merasa masuk ke dalam pendopo rumah khas Jawa. Perabotannya pun sangat mendukung.

Mungkin Anda ada yang bertanya-tanya, kenapa ada bambu yang diberi nomor? Fungsinya sebagai penanda meja. Jadi nomor yang tertulis di bambu, akan dicatat di nota pemesanan. Jadi memudahkan pramusaji mengantarkan pesanan Anda. Unik, kan?

Saat Anda memilih meja, Anda bisa memilih lesehan  duduk di meja panjang yang berada di dalan, atau duduk di kursi klasik Jawa yang ada di pendopo.  Kalau saya lebih suka duduk lesehan, mengingat punya anak-anak yang super aktif. Tepatnya, lebih leluasa.

Apa sih yang saya suka? Saya seperti kembali ke masa kecil, dimana eyang saya tinggal di pedesaan yang asri dan teduh. Peralatan makannya benar-benar yang biasa dipakai di desa jaman dulu. Piringnya seperti yang ada di gambar.  Cangkir tehnya juga yang saya suka. Aksen lurik itu lho. Saya juga memilikinya di rumah, sambil membayangkan diri saya juragan batik. Haha….

Biasanya bambu akan diambil oleh pelayan, tapi entah kenapa, anak-anak saya diperbolehkan mengambil dua bambu, dan kami kembalikan ketika pulang. Ini yang saya suka. Kedai ini tak hanya membuat perut kenyang, tempat yang nyaman, tapi juga membuat anak-anak merasa di rumah.

Kalau Anda lihat  sajian yang berada di foto, tampilannya sangat sederhana ya? Tidak seperti menu di resto umumnya yang memperhatikan seni. Justru cara ini berhasil membuat saya seperti sedang berada di rumah. Toh saya juga kalau di rumah, asal ambil sayur dan lauk, tanpa mikir seninya kan? Soal rasa, jangan ditanya, nampol. Enak.

Saya suka heran, apakah yang masak ini satu orang saja, karena rasa masakan baik pagi, siang, sore, atau malam tetap sama. Pernah saya makan di salah satu warung makan, dan rasanya berbeda ketika siang atau sore. 🙂

Beberapa kali saya datang, selalu berganti menu. Tapi ada yang selalu tersedia, biasanya kikil, tempe bacem, ayam bacem, oseng-oseng mercon. Saya sering ketemu menu itu.

Jangan kawatir, bagi Anda yang kehabisan baterai ponsel atau laptop, ada beberapa colokan yang tersedia. Toiletnya juga terawat, karena bersih dan wangi. Ini penting banget. 🙂
Saat selesai makan, saya tak perlu dag dig dug dompet kebobolan. Pertama kali saya makan di sana bersama keluarga kecil, hanya habis Rp 60.000,00.

Ketika beberapa kali kunjungan berikutnya, secara berturut-turut hanya empat puluh ribuan. Murah banget kan? Coba deh lihat foto di atas, makanan yang kami pesan terbilang banyak kan? Kayanya tidak mungkin, kalau hanya menghabiskan nominal segitu. Apalagi buat berempat. Recomended deh. Oia Anda akan dimanjakan dengan baju karyawannya yang memakai baju khas pedesaan tempo dulu, dan berganti. Kita ga bosen deh lihatnya.

Saya mungkin akan kesana lagi, mengingat, hematnya. Jadi ga kawatir duit tidak cukup untuk membayar menu yang dipesan.




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *