Rindu Yang Tak Bisa Kau Hitung

Aku terkejut, saat aku melihatmu pagi ini. Mengenakan atasan berwarna putih dipadupadankan dengan celana kain berwarna coklat. Sepatu yang kau pakai juga senada dengan warna celana. Kau pandai sekali memadu warna.
Kau berdiri tepat di depanku. Kapan kau datang? Kenapa tak menghubungiku terlebih dulu? Kau hanya tersenyum. Rindu. Itu katamu.
” Aku tak bisa berlama-lama, sementara kamu ada disini.”
Kali ini pipiku merona merah jambu, bagiku itu kalimat maut darimu. Mengingat jarang sekali kau mengucapkan banyak kata.
” Bukankah jadwalmu padat? Bagaimana dengan serialmu? ” tanyaku kemudian.
” Kenapa harus menanyakan itu? Bukankah kamu rindu juga?” kau mengedipkan mata.
” Masuklah dulu, aku akan buatkan teh kesukaanmu.”
Tanganmu lantas menggenggamku. ” Kamu tak merasa sama?”
” Aku memiliki rindu yang tak akan bisa kamu hitung.”
Senyummu melebar dan matamu selalu menyipit, saat mendengar uraianku. Ya nemang benar, rinduku jauh lebih banyak darinya. Itu pasti. Kesibukanya jauh melebihi waktuku. Tentu akan ada banyak waktu untuk melupakanku, dibanding dia diam saja. Sementara aku justru memiliki waktu untuk mengingatnya.

(Visited 1 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *