Novel Online My Love Destiny Penasaran




44621417-208-k781750
Novel Online My Love Destiny Penasaran

Novel Online My Love Destiny Penasaran


Lelaki itu masih terduduk di kursi kerja. Waktu sudah memasuki jam makan siang, tapi dia merasa enggan untuk beranjak. Badannya terasa sulit diajak berdiri. Mata sipit itu masih menyorot ke layar laptop. Menatap profil facebook dan bbm wanita ini. Terlihat dengan jelas, ada kesedihan yang sulit dijelaskan dengan kata. Muram.

Bintang tak pernah melihat Dita mengunggah foto dengan pose tersenyum, sejak akunnya dikonfirmasi. Status yang diperbarui juga sebatas promosi toko onlinenya. Kilau Anindita. Bukankah dengan nama itu, seharusnya penuh kebahagiaan? Berlimpah cahaya yang berkilau. Bintang menopang dagunya dengan kedua belah tangan. Kemudian sedikit mencondongkan tubuh ke meja, agar bisa memandang dengan jelas layar laptop. Foto terbaru Dita berbeda dengan yang lama. Bintang menyimpulkan, Dita adalah wanita yang telah hilang keceriaannya. Patah hati? Atau masalah lain?

Bintang semakin tak bisa menyembunyikan rasa ingin tahunya. Ada ketertarikan untuk mengetahui semua alasan di balik muramnya. Naluri jurnalis investigasi yang pernah menjadi pekerjaannya selama bertahun-tahun, berpengaruh juga dalam kehidupan sehari-hari. Termasuk saat ini, meneliti foto Dita bak sedang melakukan persiapan investigasi saja. Bintang merasa aneh
dengan degup jantungnya yang semakin cepat berdetak. Padahal hanya menatap foto-foto Dita.

Tangan Bintang mengarahkan krusor laptop pada foto, klik kanan, gulir ke bawah mencari kata save picture. Satu per satu foto disimpan dalam satu folder khusus bernama Kilau Anindita. Setelah proses penyimpanan selesai, Bintang menyalin folder tersebut ke ponsel. Bintang pun mengganti wallpaper di laptop dan ponsel, menggunakan foto Dita. Dia menarik kedua sudut bibir membentuk senyuman, hingga pintu ruang kerjanya diketuk dari luar.

“Ya. Masuk!” perintahnya.

Tak menunggu waktu lama, asisten bernama Ipang, masuk ke dalam ruang kerja Bintang.

“Pak Bintang, ini ada beberapa paket berisi naskah. Apa mau dicek terlebih dulu?” ujar Ipang yang membawa beberapa paket, dibungkus dengan kertas payung. “Taruh saja di meja, Pang.” ujarnya kemudian, dibalas anggukan Ipang. Ipang kemudian meletakkan semua amplop berisi naskah tersebut di atas meja. Setelah itu, Ipang berpamitan untuk kembali ke meja kerjanya yang dekat dengan pintu masuk ruangan Bintang.

Bintang kemudian meraih semua paket tersebut. Satu paket dia buka dan mengeluarkan isinya. Naskah dengan tampilan biasa. Hanya dikasih binder satu buah, tanpa sinopsis. Bintang berdecak. Bosan melihat pemandangan ini sehari-hari. Jarang sekali ada penulis yang mengirimkan naskah yang terjilid rapi seperti buku, dengan selembar cover sederhana berwarna merah muda atau biru, dilampiri selembar sinopsis.

Padahal itu mempermudah pekerjaannya untuk mengetahui isi naskahnya apa. Namun jarang sekali kejadian seperti itu. Seringkali, naskah yang masuk, begitu acak-acakan, berserakan di dalam amplop begitu saja, tanpa ada bendel. Huruf tak beraturan besar kecilnya dan tanda baca yang keliru. Tanpa sadar Bintang menghela nafas.

Bintang mengalihkan perhatian ke amplop berikutnya. Dia membuka amplop itu dan menarik naskah yang berada di dalamnya. Kali ini naskah itu dijilid rapi, dan disertai sinopsis. Bintang meletakkan naskah tersebut di sisi meja yang lain. Ada yang mengganjal di hati Bintang, tapi bukan karena naskah-naskah yang masuk. Pikirannya memang sedang bercabang, tak sepenuhnya disini. BBM semalam, sepertinya tidak meninggalkan kesan untuk Dita. Gadis itu sama sekali tak merespon dengan baik. Ah mungkin karena belum kenal. Bisa jadi. Bintang berusaha berbaik sangka.

Bintang kembali tenggelam dengan kesibukan barunya, mengamati foto-foto Dita berulang-ulang. Mencari tahu kenapa Dita tidak tersenyum lagi. Bagi orang lain, pasti akan berkomentar kalau Bintang kurang kerjaan. Bintang sangat ingin tahu alasan tentang muramnya foto Dita. Tak ada satu pun petunjuk, termasuk status yang ada di facebook Dita. Apa itu hanya sekedar kamuflase perasaan Dita? Bintang menggelengkan kepala.

Jemarinya kembali menggulirkan krusor sampai ke bawah. Ada beberapa komentar dari status Dita. Dia mulai mengamati komentar yang ada dan berusaha mengira-ngira. Itu juga termasuk dengan kiriman status dari beberapa akun yang terlihat begitu dekat. Beberapa akun yang menurut Bintang memiliki kedekatan secara personal dengan Dita. Bintang pun melihat profil akun yang dia curigai sebagai teman Dita. Namun karena belum menjadi teman, Bintang tak bisa melihat info yang tertera secara jelas. Meski ada juga akun yang bisa terlihat informasinya, karena akun tersebut tidak dikunci oleh pemiliknya. Lokasinya ada yang berasal dari Kalimantan, Surabaya, Semarang, Jakarta, dan masih banyak yang lainnya. Nah ini dia! Bintang hampir saja kelepasan untuk teriak. Ada satu akun yang menurutnya, sangat dekat dengan Dita. Lokasinya juga berada di kota yang sama, Jogja.

Bintang lantas melihat profil tentang pemilik akun. Putri Fitria Suryotomo. Nama yang bagus. Bintang mengamati status yang ada di dinding Facebook milik Putri. Status berisi pertemuan mereka ala gadis lajang. Untung saja, profil Putri tidak terkunci, jadi Bintang bisa membaca semua status yang ada. Setelah yakin, Bintang segera klik permintaan pertemanan, sambil berharap Putri mau menerima, dan perkiraannya tak meleset.

Tak membutuhkan waktu lama, agar permintaan pertemanan diterima. Bintang menjerit karena senang. Sadar berada di kantor, Bintang berusaha mengontrol perasaan yang meluap-luap. Cowok itu juga menahan rasa ingin tahunya dengan tidak bertanya soal Dita.

“Terima kasih ya, sudah confirm.”

Hanya itu saja yang bisa dituliskan Bintang sementara ini. Semoga ada keajaiban, agar Putri bisa membantu, mendekatkan dirinya dengan Dita. Kalau tebakannya benar.

Dita memandang layar ponsel pintarnya, ada nama Bintang tertera disana. Menyapa kembali tanpa ada kepentingan. Pertanyaan klise seperti, sudah makan belum, sedang apa, semacam itu. Bagaimana penjualan buku di toko buku online milik Dita. Gadis itu bergidik. Pertanyaan yang tak seharusnya dikatakan oleh seseorang yang teman saja bukan. Pikirannya mulai menambat kembali ke Gilang. Terkenang untuk mengingat kembali, saat Gilang pertama kali menyapa dan mengajak makan malam. Ketakutan dan keengganannya beradu menjadi satu. Masalahnya dengan Gilang belum menemukan jawaban. Entah apa statusnya sekarang.

Semua pertanyaan Bintang, sengaja tidak diindahkan Dita. Smartphone itu dia lempar ke tempat tidur. Sementara dia mulai melanjutkan mengetik naskah yang terbengkalai, sejak ditinggal Gilang. Dita bertekat untuk menyelesaikan. Nanti saja kalau sudah malam, baru menghubungi Bintang. Tak enak juga, membuat orang lain menunggu. Anggap saja, perhatian yang ditunjukkan Bintang, tak lain sebatas orang penerbitan yang menginginkan naskah calon penulis. Sudah itu saja. Tak lebih.

Bunyi ring tone berbunyi. Nama Putri tertera di layar. Dita kemudian mengambil telepon selularnya dan menekan tombol berwarna hijau.

“Dita, gimana kabarmu?”

Dita kurang menangkap suara Putri, tertelan suara yang riuh rendah.

“Kamu dimana? Ramai banget.” tanya Dita seraya mengerutkan dahi. Pasar?

“Aku lagi di penjahit. Rumahnya kan di pinggir jalan. Biasa orderan kebaya pengantin. Oiya, kita bisa ketemuan besuk?”

Putri memang lebih menyukai menelepon, meski sudah ada fitur BBM sekali pun. Katanya menelepon lebih mengurangi kesalahpahaman.

“Boleh. Dimana?”

“Aku jemput saja ke rumah. Besuk aku kabari lagi ya.”

“Oke.”

Dita sudah menunggu dengan manis di ruang kerja sekaligus kamar tidur. Dia bisa melihat pintu pagar dari balik korden jendela kamar. Salah satu kaki diangkat dan tertumpu di kaki satunya. Posisi kepala menyandar di sandaran kursi. Buku yang ada dalam genggaman, hanya dibolak balik saja halamannya. Tadi pagi, Putri sudah memberitahu kalau akan menjemput jam tiga sore. Setengah jam lagi dari sekarang. Kebiasaan Putri yang selalu datang sebelum waktu janjian, membuat Dita sudah bersiap dari tadi. Tak mau membuat Putri menunggu.

Suara mobil berhenti di depan pagar rumah, membuat Dita secara reflek menoleh keluar jendela. Itu dia. Putri sudah datang. Tampak Putri keluar dari dalam mobil dan melangkah menuju pintu pagar. Dita segera meraih tas selempang kecil yang terbuat dari bahan kulit. Gadis itu keluar kamar dan membuka pintu rumah. Putri sudah berdiri di depan rumah, ketika pintu terbuka, dengan senyuman yang tersungging manis.

“Astaga! Sudah siap ya?”

Putri mengulum senyum, sementara Dita pura-pura mendengus. Tangannya masih memegang gagang pintu rumah. “Langsung berangkat sekarang, atau nanti?”

“Bentar, aku kan baru sampai. Rebahan bentar ya.”

Putri menghempaskan tubuh ke sofa empuk yang berada di ruang tamu. Tangannya meraih remot tivi dan menyalakannya. Dita hanya tersenyum kecil, melihat sahabatnya yang sudah menganggap ini rumah kedua. Dia kemudian mengambil air es segelas dan menyodorkan ke Putri yang sedang menikmati acara televisi.

Putri meraih gelas yang disodorkan tersebut. “Sorry Dit, aku tadi musti ngurus beberapa klien yang mau fitting baju.”

Dita mengangguk memahami sekali pekerjaan karibnya ini. Putri sekarang telah menjadi desainer baju pengantin ternama di kota ini. Pekerjaan yang telah menjadi dambaannya sejak SMA.

“Musim orang nikah ya.”

Dita kelepasan bicara.

“Iya.”

Dita menoleh ke arah Putri yang baru saja mengucapkan satu kata saja.

“Oia, kita nanti ke kafe biasanya aja ya. Tempat kita biasa kumpul.”

“Kafe biasanya? Kumpul? Memang ada acara apa?”

“Sudah, tenang saja.” Putri mengedipkan sebelah mata, sambil meletakkan gelas kosong di meja. Matanya memperhatikan Dita dari atas ke bawah. Dita mengernyitkan dahi, bingung dengan kelakuan teman yang ada di hadapannya sekarang. Dasar desainer, rutuk Dita. Tentu Putri tak memiliki niat merendahkan, Dita paham betul. Memang kebiasaan dia kalau sedang membuat desain baju, harus melihat dulu kliennya? Eh apa-apaan nih, pakai membolak balikkan badan Dita. Memutar ke kanan dan ke kiri. Putri menganggukkan kepala, lalu mengambil tas dan kunci mobil. Dia tak mempedulikan Dita yang dibuat kebingungan dan bertanya-tanya.

“Kita mau ngapain sih?” tanya Dita ketika melihat Putri yang seperti sedang mencari seseorang. Janjian dengan orang, tapi kenapa musti mengajaknya? Putri lagi-lagi tak mengindahkan pertanyaan Dita, Dia terus melongokkan kepala ke berbagai arah.

“Aha! Itu dia!” teriak Putri, lalu menarik lengan Dita berjalan menuju ke sudut kafe. Sebentar, itu laki-laki kan? Apa Putri sedang ingin mengenalkan dia dengan seseorang? Pacar? Apa itu mas dokter yang sering dibicarakan oleh Putri tempo hari, gara-gara Dita pingsan? Seingatnya sih, tidak mirip. Ehm, orang itu kulitnya lebih kecoklatan deh. Hem, sepertinya bukan. Dita sibuk dengan berbagai pertanyaan hingga tanpa sadar, mereka berdua sudah berdiri dikursi tempat lelaki itu telah duduk.

“Maaf. Sudah lama?” kata Putri kepada pria yang duduk dengan posisi tegak itu. Dia pun berdiri dan mengulurkan tangam untuk bersalaman dengan Putri dan Dita. Lelaki itu menggeleng. “Belum. Santai aja.”. Senyumnya mengembang.

“Tadi aku harus menjemput Dita dulu. Mobilnya di bengkel.”

Dita hampir saja protes saat dijadikan alasan keterlambatannya, kalau saja kaki Putri tidak menyenggol kakinya. Dita mengaduh pelan.

“Oh iya, kenalin, ini namanya Dita. Cantik, kan?” ucap Putri setelah mereka bertiga duduk, dan selesai memesan menu makanan dan minuman.

Dita masih terdiam dan mulai merasa tidak nyaman. Gadis itu mulai mencium sesuatu yang tidak beres.

“Namaku Dodit, temen SMP Putri dulu.”

Dita menanggapinya dengan senyuman, sedikit terpaksa. Senyuman basa basi. Sementara Dodit bersikap sebaliknya. Dia begitu antusias melihat Dita dengan tatapan yang ceria dan sedikit jahil.

“Kok diam saja? Sariawan ya?” kelakar Dodit disertai tawa Putri. Melihat situasi yang tidak begitu nyaman, terutama respon Dita, Putri pun ambil suara.

“Sorry Dot, Dita tidak tahu kalau mau aku ajak kesini. Maksudnya sih, mau surprise aja. Tapi malah kebingungan gitu mukanya.”

Putri membenarkan letak duduknya, sedikit menjauh dari kursi Dita. Takut saja, kalau Dita menangkap maksud Putri mengajak ke kafe sore ini. Namun disaat yang sama, Dita baru tersadar. Dita melirik Putri yang sedang sibuk mengaduk-aduk minumannya. Dodit ini bukan pacar Putri. Jadi, Putri bermaksud menjodohkan mereka berdua? Coba lihat, Dita mulai mengamati lelaki yang sekarang sedang mengobrol dengan Putri. Sesekali dia memalingkan muka ke arah lain, atau pura-pura menyimak Putri yang sedang mengobrol. Demi menjaga kesopanan.,

Cowok yang duduk di hadapannya ini, memang memiliki penampilan menarik. Tapi terlalu metroseksual. Bukan, bukan Dita tidak suka tipe cowok seperti ini., Suka malah. Kulit terlalu mulus, cek. Lipitan baju dan celana juga begitu rapi, cek. Parfum yang menguar, menusuk hidung, cek. Rambut yang ditata menggunakan gel, cek. Banyak. Dita berdecak dan menggelengkan kepala.

Mata Dita tak lepas dari Dodit. Mengamati diam-diam tanpa sepengetahuan lelaki satu itu. Sementara dia justru asyik bercerita tentang kenangan masa SMP dengan Putri. Sekarang, Dita merasa seperti kambing congek. Dita juga bingung mau ngomong soal apa. Kenal saja tidak. Dita lantas membuang muka. Melihat orang yang berlalu lalang di trotoar, melalui kaca jendela. Pikirannya hampir saja terbang kemana-mana, kalau saja….

“Kata Putri, kamu pemilik toko buku online ya?” suara berat Dodit mulai melepar pertanyaan, untuk memecah suasana kaku. Baguslah, kalau dia menyadari keberadaannya. Dita mengangguk, “Iya, begitulah.”

Singkat.

Hening.

Dodit dan Putri lantas berpandangan, sedangkan Dita mengeluarkan ekspresi tidak bersalah.

“Toko buku onlinenya sudah di diulas berbagai majalah dan tabloid lo, Dod. Keren kan?” seru Putri menyelamatkan keadaan yang semakin kikuk. Menurut sudut pandang Putri. Dita menyunggingkan senyum, astaga-biasa-aja-lagi. Dodit melempar pandangan ke Dita dengan tatapan, wah-kamu-begitu-mengagumkan. Dita membalas senyumnya, demi kesopanan. Ayolah Putri, kapan kita pulang? Dita benar-benar merasa tidak nyaman disini.

“Kabar terbaru, novelnya akan terbit.” lanjut Putri. Dita ingin segera menenggelamkan kepala ke tanah.

“Wow, keren sekali!” komentar Dodit, sambil terus memandangi Dita. Gadis itu merasa kafe ini tidak berasa pendinginnya. Berkali-kali Dita melakukan gerakan kipas-kipas dengan tangannya. Putri dan Dodit terkekeh memandangi kelakuan salah tingkah Dita. Tatapan kekaguman itu, terlalu berlebihan deh, sama seperti penampilannya.

Ini membuat Dita merasa semakin jengah dan tak nyaman. Dita kembali memaksakan untuk tersenyum, lalu bibirnya kembali mengerucut, jemarinya sibuk menekan keypad ponsel di tangan. Putri mulai merasa serba salah, melihat teman karib yang tidak suka dengan niat baiknya. Putri memalingkan muka, membuka pesan BBM, dari Dita.

“Put, yuk pulang. Sore ini aku harus kirim paket. Kurir mau ambil jam lima.”

Semoga ini bukan alasan yang sengaja dibuat oleh Dita. Bukankah, Dodit ini keren? Cowok yang bisa ditenteng-tenteng ke acara mana saja? Kulit mulus licin, hidung mancung, badan yang tinggi dan tegap. Penampilan oke. Wangi.Kurang apa lagi?

PING !!!!

Astaga, Dita! Tidak sabaran banget.

“Iya, bentar. Gimana kasih alasan sama Dodit?”

Terkirim.

“Kamu saja yang kasih alasan.”

Terkirim.

Dita mengurungkan mengetik balasan demi membaca bbm Putri berikutnya.

“Bilang saja, aku ada kerjaan.”

Terkirim.

Putri paling bisa menyuruh orang buat mengakhiri sesuatu, sementara dia sendiri yang memulai tanpa bilang terlebih dahulu. Kalau saja, Dita tidak menjaga perasaan Putri, dia sudah ngeloyor pergi dari tadi.

“Dod, maaf.”

Dita terpaksa menyela pembicaraan Dodit yang tak juga berhenti bicara sejak tadi, walau Putri dan Dita sempat saling kirim BBM.

“Ya?” Dodit segera memperhatikan Dita. Akhirnya, gadis ini mulai mengajak bicara,, pikir cowok yang terlalu metroseksual itu. Matanya menatap mata Dita lurus.

“Maaf, aku harus pulang duluan. Barusan kurir yang mau ambil paket, sms kalau sudah sampai di depan rumah. Aku lupa memberitahu dia, kalau sedang di luar.’

Dodit terlihat kecewa dengan ucapan Dita barusaja. “Mau kuantar pulang?”

Dita menggeleng, “Tidak, terima kasih. Aku tadi berangkat dengan Putri, jadi pulang dengan dia juga.” Dita menoleh ke arah Putri. “Iya kan Put?”

Dita menyenggol lengan Putri dengan tangannya. Putri lalu mengangguk. Sebelum Dodit melanjutkan ucapannya. Dita lantas berdiri dan mengulurkan tangan ke Dodit. “Baiklah Dot, aku pulang ya. Terima kasih ya.”

Senyum lega Dita mengembang begitu lebar, kemudian berbalik arah dan berjalan meninggalkan meja itu.

“Dita! Tunggu! Makasi ya, Dot. Kapan-kapan kita ketemu lagi ya.” Putri bangkit dari kursi dengan terburu-buru sembari mengaitkan tas ke pundak. “Aku antar Dita dulu ya.” teriak Putri yang berjalan mendekati kasir. Dita sudah berdiri disana sejak tadi, dan menunjukkan bon pembelian dua gelas minuman yang sempat dipesan. Putri kemudian mengikuti Dita yang melangkah duluan ke arah pintu kafe.

Dodit hanya bisa terdiam memandangi punggung mereka berdua keluar dari dalam kafe. Dia tak sempat membalas ucapan Putri dan Dita yang memotong pembicaraannya. Tampak dari tempat dia duduk, kedua gadis itu sudah memasuki mobil sedan yang terparkir. Hilang sudah kesempatan untuk memiliki kenalan baru, yang siapa tahu bisa menjadi jodohnya.

“Apa-apaan sih, Put?”

Dita mulai membuka pembicaraan, setelah sedan milik Putri melaju di jalan raya. Putri menoleh sekilas, lalu memperhatikan kembali jalan raya. ” Kenapa?”

” Mengenalkan dengan orang, tanpa bilang terlebih dahulu.” jelas Dita.

” Maaf Dit, aku yakin kamu tidak mau. Bukannya, Dodit menarik ya? Kamu aja yang….”

Putri lantas terdiam, tidak melanjutkan ucapannya. Percuma, kalau sedang marah begitu. Mending didiamkan saja dulu. Tidak usah ditanggapin, lagipula, Putri juga merasa bersalah.

” Memang kurang Dodit, apa sih?”

Putri memecah kesunyian, setelah mereka berdua terdiam begitu lama. Sibuk dengan pikiran masing-masing.

” Terlalu banyak omong. Terlalu ‘aku’. Terlalu metroseksual. Terlalu berlebihan.” jawab Dita kemudian. Mungkin terlalu cakep? Kata Putri dalam hati. Kepalanya manggut-manggut. Putri hanya melihat Dodit, sebatas sepertinya-dia-cocok-kalau-sama-Dita-udah. Gilang juga tak jauh beda dengan Dodit. Bibir Putri melengkung ke bawah, setelah menyadari teringat dengan Gilang. Astaga, laki satu itu ya. Kemana sih?

Belokan jalan menuju rumah Dita mulai terlihat. Putri berharap lekas sampai depan rumah. Dia paling tidak bisa, duduk bersama, tapi saling diam. Ditambah perasaan bersalah yang mendera Putri. Tak berapa lama, gadis itu sudah melambatkan laju, dan menepi ke depan pintu pagar.

” Dita, aku langsung pulang saja ya. Harus balik ke butik. Ada yang mau fitting baju.” jelas Putri sambil menarik handrem. Dia melihat sahabatnya yang dengan raut muka tidak bisa diterjemahkan. Dita menoleh, lalu membuang muka. Dita tahu, maksud Putri sebenarnya baik. Padahal sahabatnya sendiri, belum menemukan pengganti mantan kekasih yang sudah tega memberi luka yang begitu dalam. Sekarang justru memikirkan dirinya. Memikirkan agar Dita bisa memiliki kekasih lagi.

Minimal kenal dengan seseorang yang memiliki peluang. Atau jangan-jangan, Putri sebenarnya sedang mengkawatirkan dirinya, karena dia adalah produk broken home, produk gagal? Riwayat mama yang ditinggalkan papa Dita, ditakutkan akan membuatnya berpikir untuk tidak mencicipi lagi, tepatnya trauma? Sedangkan Putri memiliki figure ayah dan ibu yang sangat harmonis hingga sekarang. Paling tidak, Putri masih memiliki pandangan yang benar dan sehat. Bahwa cinta sejati itu masih ada.

“Hei, malah melamun!” tegur Putri begitu keras, hingga menyadarkan Dita dari pikiran yang berkecamuk.

“Ehm Put. Maafin aku ya. Aku hanya merasa tak nyaman.”

Dita menundukkan kepala, jemarinya saling bertautan.

Putri mengangguk, “Aku tahu. Tenang saja.”

Dita menoleh ke arah Putri.

“Sudah, sekarang kamu istirahat saja. Kamu pasti lelah.” lanjut Putri.





Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *