Orang Ini Mengais Sampah Untuk Makan

Orang Ini Mengais Sampah Untuk Makan
Orang Ini Mengais Sampah Untuk Makan



Orang Ini Mengais Sampah Untuk Makan
Pagi ini sepulang mengantar anak ke sekolah, saya melalui jalan biasanya. Waktu saya mengendarai, kebetulan pelan, mata menangkap pemandangan yang membuat hati sedih. Tampak seorang lelaki mungkin seusia saya, hanya saja karena lusuh dan tak terawat tanpak menua. Dia duduk dengan berjongkok menghadap tempat sampah. Dia seperti mengais isi sampah. Bukan mengambil sampah seperti plastik, gelas mineral, botol, atau apa saja yang bisa dijual kembali. 
Tangannya memunguti beberapa plastik, yang saya tahu itu adalah bungkus permen. Jarinya seolah memastikan masih ada isinya di dalam. Kemudian dia menyisihkan ke lantai semen, setelah sebelumnya membersihkan bungkus permen itu dengan tangannya. 
Laju motor saya kurangi, sembari memperhatikannya. Saya mengurungkan untuk segera pulang, memutar balik motor dan menghentikan kendaraan tak jauh dari dirinya. Lalu pura-pura ingin menelepon, karena anak bertanya kenapa tak segera pulang. Saya bilang sebentar. Sebenarnya saya sedang mengambil gambar lelaki lusuh itu. Dia sempat menghentikan kegiatannya. Mungkin mendengar suara saya, dia kemudian melanjutkan memilih-milih lagi.
Dada saya tiba-tiba terasa sesak, melihatnya yang mengambil sisa makanan yang terbuang. Entah tadi malam, entah tadi pagi. Kemudian, tangannya sudah memegang sebungkus sate, melihatnya bisa dipastikan itu sisa sate semalam. Dia membuka plastiknya lalu membersihkan plastik. Lagi lagi, dia letakkan ke lantai dengan posisi berdiri. Saya masih melihat aktivitasnya, tanpa dia menyadari sedikit pun. 
Orang Ini Mengais Sampah Untuk Makan
Orang Ini Mengais Sampah Untuk Makan

Tak tahan lagi, saya masukkan ponsel kembali ke dalam pouch dan menyalakan mesin, kemudian memarkir di belakangnya. Tepat di rumah samping tempat dia memungut sampah. Menyadari hal itu, dia segera membereskan apa yang dia pungut tadi, di samping tempat sampah. Dia sudah mengemasnya rapi. Jemari-jemarinya yang sudah kusut ditepuk-tepukkan di bajunya, seperti sedang membersihkannya. Kemudian
dia seolah sedang tidak melakukan apa pun. Seperti tak mau, ada orng lain melihatnya. Dia kira, orang lain tidak memperhatikan apa yang dia lakukan. Dia mencoba sedang memperhatikan jalan raya, yang mulai ramai dengan motor dan mobil yang berlalu lalang. Mencoba menyunggingkan senyumnya. Kemudian saya hampiri dia. “Pak, ini untuk beli es teh ya.”
Saya segera berlalu, tapi saya sempat menangkap senyumnya. Uang itu tak seberapa. Semoga cukup untuk membeli makanan dan minuman yang layak konsumsi. Artikel ini bukan untuk riya’. Sungguh. Saya sudah melakukan ini sejak dahulu. Bahkan meski dilarang, saya diam-diam tetap memberi. Dulu waktu kecil, kalau tak ada uang, saya akan mengambilkan plastik yang sudah saya isi nasi dan sayur untuk orang yang membutuhkan. Tapi ada satu yang ingin saya perlihatkan kepada Anda yang membaca artikel ini. Bahwa ada orang di luar sana yang kesulitan untuk membeli makan dan minum. Saya sering ngilu, bila mendapati orang yang tidak menghabiskan makanan dan minumannya. Bolehlah itu Anda yang beli menggunakan uang Anda sendiri. Tapi apakah Anda yang suka membuang makanan tahu, ada orang lain yang membutuhkan makanan dan minuman, sementra Anda menyisakan makanan dan membuangnya. Ambillah secukupnya, kira-kiralah kapasitas perut Anda. 
Alhamdulillah, selama ini saya mengajarkan anak-anak menghabiskan makannnya, kalau tidak, akan saya habiskan. Selalu saya tekankan, ada begitu banyak orang di belahana bumi ini yang tidak bisa makan dengan baik. Kira-kira, setelah ini, apakah Anda masih menyisakan makanan dan minuman Anda? Masih tegakah? Kalau iya, sebaiknya, uang itu Anda berikan untuk mereka yang membutuhkan. Saya berharap, saya bisa memiliki banyak uang, agar bisa membantu orang yang membutuhkan. Bagaimanapun uang sangat penting untuk mereka.
(Visited 26 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *