Ketika Lapar Lihat Makanan Tapi Tidak Bisa Beli. Inilah yang dilakukan….




Apakah di antara teman-teman mengalami hal ini? Atau saya dan segelintir lainnya yang mengalami? Dulu sejak menikah dan kesulitan sepertinya saya fun saja. Menikmatinya dan tetap terlihat awet muda kata orang. 

Mereka bilang saya seperti tidak pernah punya masalah. Keterbatasan bukan masalah yang besar. Saya masih bisa survive. Naik turun. Dihantam kanan kiri. Saya tetap tangguh. Sampai sekarang masih dengan keterbatasan. Yang semakin parah tentu saja.

Pertahanan Saya Jebol Juga

Apa saya menangis? Ya, akhir-akhir ini pertahanan saya jebol juga. Saya dulu menangis juga pernah. Tapi masih bisalah untuk kembali tersenyum. 

Seolah segalanya baik-baik saja. Meski pernah tak punya sepeser pun uang untuk beli susu anak. Saya masih optimis dalam memandang masa depan.

Miss Optimis

Saya sampai dijuluki Miss Optimis. Orang yang selalu positif. Kali ini? Saya jebol juga. Anak saya dua. Mereka sudah mulai besar. Biaya sekolah, kebutuhan sehari-hari yang sudah sangat terbatas. 

Yang paling membuat saya ingin teriak adalah soal makan anak-anak. Saya puasa juga ga masalah. Menyembunyikan ini dari mama. Kasihan. Seharusnya saya sudah sukses kan ya. Bisa sedih. Mungkin juga lelah. Kenapa anaknya masih begini saja. 

Belum teman lama yang mengingatkan. Andai saya dulu menerima ini itu. Hidup saya mungkin jauh lebih baik. Hahaha…. Lucu saja….. Masih banyak yang lainnya. 

Hal ini membuat saya sempat termenung, down, lelah, letih, ngedrop sampai tumbang. Saya juga kepikiran banyak hal yang harus saya tunaikan. Itu kenapa saya jumpalitan. Tak ada yang bisa saya andalkan. Siapa? Minta tolong siapa? 

Alhamdulillah saya ditolong orang-orang yang baik. Hanya satu saudara saja yang baik banget membantu sekali. Itu pun saudara jauh. 

Kepada mereka yang berbaik hati itu semoga selalu sehat dan berkelimpahan rejeki. 

Sekarang saya merasa tak biasa. Ketika melihat makanan enak, perut kemerucuk tapi ga bisa membeli. Rasanya gimana gitu. Saya baru bisa merasakan seperti apa. (Saya pernah berpikir ketika melihat orang tak mampu di jalan. Kamu ini suka membantu orang. Suka kasihan sama orang lain. Tapi diri sendiri saja menyedihkan.)

Aroma yang Menyiksa

Wangi makanan membuat perut pun mulai bertabuh. Ah saya geli sendiri. Saya pegang perut buncit ini. Saya yakin bukan hanya saya saja. Tapi kedua anak saya itu. Pernah bilang lapar. 

Sementara aroma masakan memang makin menusuk indra penciuman. Tak masalah makan mi lagi. Yang penting perut terisi. 

Saat memilah receh demi receh untuk ditukarkan dengan susu sachet atau apapun demi survive. Memungut uang 100, 500 atau 1000 di tiap sudut rumah pun di kantong celana. Suami pun demikian. Kemudian saya kumpulkan. Bisa untuk membeli sayur. 

Setidaknya saya masih survive. Saya tersenyum masih dengan keyakinan ada rahasia Alloh untuk membuat saya sukses. Bukankah orang sukses itu dulu pernah begini. JK Rawling pun demikian. 

Akhir-akhir ini, saya juga teralihkan melihat ibu-ibu yang mengantar anaknya dengan gaun bagus dan selalu berganti. Melihat anak-anak yang mengenakan baju, sepatu dan aksesoris bagus. Selalu berganti. 

Baik di media sosial atau pun kehidupan nyata. Sementara saya mau beli sandal buat anak-anak saja tidak mampu. Sandal sulung sudah sobek meski tidak kelihatan banget. Masih bisa dipakai. 

Saya melihat mereka makan masakan lezat. Mobil bagus dan mulus terparkir. Kulit yang cerah. Senyum yang terukir di wajahnya tanpa beban. Tak perlu berpikir ketika hendak membeli sesuatu. Tawa riang dan menggema, sedikit mengalihkan pandangan saya. 

Melihat bagaimana mereka membeli make up. Sementara saya bisa datang sudah bersyukur meski bensin menipis. 

Saya menatap nanar dan mengembangkan senyum ketika ada yang bertanya kenapa tak membeli. Melihat mereka memilah deretan baju untuk dibeli. Membuat saya menelan ludah. 

Ternyata begini rasanya. Dulu saya begitu cuek. Pada akhirnya saya rasa ini. Hahahaha…… 

Rumah bagus dan enak ditempati. Melihat interior rumah yang bagus dan cantik. Rak cantik warna putih. Wallpaper bunga. Sofa empuk. Kamar khusus anak. Dapur yang menawan. Saya lantas melihat keadaan dalam rumah yang seperti ini. 

Saya bersyukur. Kami tak kehujanan. Meski meminta belas kasihan soal pembayaran. Karena rumah tak kunjung jadi. Berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya. 

Membuat saya mulai menyadari bahwa hidup saya ternyata berat juga ya. Rasa percaya diri saya mulai tergerogoti. Saya merasa tak berarti. Mulai minder. 

Jujur rasa percaya diri pun mulai anjlok ke level terendah. Alloh memang sedemikian sayang dengan saya. Sampai memberikan ujian seperti ini.

Datangnya Kesempatan

Pelan-pelan kemarin mulai terbuka satu per satu. Kesempatan. Ya. Karena saya juga memikirkan banyak hal yang harus saya tunaikan kepada kawan baik dan satu saudara jauh saya. Meski mereka bilang tak apa pikirkan dulu anak-anak. Tapi saya merasa tak enak kalau begini.

Tawaran dari Google

Minggu kemarin saya mendapat 4 email yang menggetarkan saya.

1. Dapat email dari Google Adsense untuk blog. Hal ini membuat saya makin rajin ngetik. Meski saya kadang dilanda kebosanan.

Tetapi saya lantas teringat seseorang yang menginspirasi ketika jadi mentor. Dia tak lepas dengan laptopnya dan terus mengetik. Saya jadi termotivasi. Sampai sekarang, saya bisa menyembuhkan kejenuhan akibat banyak hal yang membuat saya mampat ketika menulis.

Dia tak tahu soal ini. Mungkin suatu saat kalau bertemu lagi, saya akan menceritakan ini.

2. Mendapat email Google Adsense untuk Youtube. Kaget juga. Meski masih bertahap tapi saya senang sekali. Saya telat tahu karena masuk folder lain.

3. Dapat email TAWARAN JADI TRAINER GOOGLE. Saya iyakan saja. Ini juga sebuah kesempatan emas kan.

4. Email terpilih jadi MITRA GOOGLE PLAY BOOK. Selama 2 bulan ini saya berjibaku menyelesaikan ebook untuk publish di Google Play Book. Karena saya dapat email untuk jadi mitra Google Play Book.

Itu kenapa saya sekarang begitu gencar menulis blog dan ebook. Rajin membuat dan share konten youtube. Mengelola media sosial jauh lebih rajin. Semoga bisa menjadi passive income atau pendapatan utama.

Saya tak melulu menggarap konten Youtube demi uang. Saya tak menafikkan membutuhkan hal ity juga.

Tapi kalau saya berpatokan itu ketika menggarap bisa stress juga. Ini salah satu cara saya survive dan mewujudkan mimpi. Apapun saya lakukan agar bisa mengais rejeki.

Sedikitpun saya syukuri untuk anak-anak. Meski saya sempat patah arang hanya membawa hasil begitu sedikit.

Bagaimanapun ini salah satu usaha saya untuk memenuhi kebutuhan anak-anak dan menunaikan banyak hal yang terpaksa tertunda.

Pesan pentingnya adalah….

Saya belajar satu hal. Bahwa saya masih memiliki harapan untuk hidup secara layak. Dan bisa membantu banyak orang. Mengembalikan kebaikan teman-teman dan satu saudara yang begitu baik membantu segitunya. Menunaikan yang tertunda karena ketiadaan saya.

Saya masih punya harapan. Anggap ini semacam self healing untuk saya yang sedang memupuk rasa percaya diri saya ini.

Semoga ini menjawab celetukan segelintir orang yang mengatakan saya terlalu ngoyo cari duit.

Iya, kalau ga ngoyo saya akan dapat duit dan ga bisa makan. Saya ga dapat gaji.

Semuanya berawal dari freelance. Saya mau minta siapa lagi? Kecuali meminta pertolongan dan kebaikan Alloh. Saya juga diberkahi kebaikan orang-orang yang peduli dan mau mengerti.

Self Healing November. Ketika harapan mulai muncul satu per satu. Oia saya menjual benang rajut dan buku. Insya Alloh saya share di blog ini saja ya. Kondisii bagus…




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *