Apa Susahnya Terima Kasih

Pagi ini, saya pergi menitipkan pie susu di warung bubur langganan. Saya juga ingin beli bubur sekalian. Bubur enak dan murah meriah.
Saat bersamaan berdiri seorang wanita usia mungkin sebaya dengan saya. Karena saya memesan duluan, ya saya didulukan. Orang ini kekeh banget. Akhirnya pesan berapa? Satu. Akhirnya sama pemilik warung didahulukan, karena saya membeli untuk anak-anak.
Saya bilang, iya gpp, dia saja dulu. Setelah pemilik warung menanyakan ke saya.
Saya sempat tersenyum dengannya, pembeli di sebelah itu. Dia tidak tersenyum dan tidak mengucapkan sepatah kata pun. Termasuk ucapan terima kasih.
” Saya buru-buru mau masuk kantor.”
Tapi penampilan masih lusuh belum mandi.
Memang saya juga tidak punya aktivitas apa pun?
Sudah menyerobot dan tidak memgucapkan terima kasih kepada saya yang sudah memberikan giliran.
Kalau saya, pasti akan mengucapkan terima kasih, setidaknya, saya menghargai perbuatan orang lain sekecil apa pun itu. Kita tak pernah tahu, seberapa melegakannya ucapan terima kasih itu.
Atau Anda sedang meremehkan saya, yang menitipkan kue?
Entahlah. Saya yakin setiap tindakan akan mendapatkan ganti. Bisa jadi Anda akan dibuat kesal oleh orang lain. 🙂

(Visited 6 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *